Jumat, 06 Mei 2011

ANAK USIA 2-3 TAHUN


KOGNITIF DAN PSIKO-SOSIAL ANAK USIA 2-3 TAHUN

Ketika harus merancang program untuk anak dengan tingkat perkembangan setara anak 2 sampai 2,5 tahun, mungkin ini saatnya menengok ke 11 tahun yg lalu.  Kuliah psikologi pendidikan dan psikologi perkembangan, waktu itu teori perkembangan kognitif banyak mengacu ke PIAGET,  sedangkan teori perkembangan psycho-sosial banyaknya dari ERICK ERICKSON.

PIAGET membagi usia perkembangan anak menjadi 4 tahapan, kalau melihat penggolongan ala tersebut maka usia 2-3 tahun jadi masa transisi dari tahap pertama ke tahap kedua. Check it out:
Pada usia 0-2 tahun, anak belajar dengan panca indranya, sangat termotivasi untuk menyentuh/memegang untuk tahu reaksi dari perbuatannya, karena itulah fase ini sering disebut fase Sensori Motor. Mengajarkan konsep tidak cukup dengan bantuan gambar saja, melainkan harus dengan peragaan dan objek langsung yang bergerak seperti boneka dan dramatisasi.
Pada usia 2-7 tahun, anak menjadi 'egosentris' karena sulit melihat dari sudut pandang orang lain. Anak cenderung meniru orang di sekelilingnya. Mereka sudah mulai mengerti hukum kausalitas, namun masih belum mengerti cara berpikir yang kompleks sistematis, fase ini sering disebut Pra-operasional. Dalam menyampaikan konsep masih perlu menggunakan alat peraga.

Perkembangan psycho-social (perkembangan jiwa yang dipengaruhi oleh lingkungan) ala ERICK ERICKSON kira-kira begini isinya: Pada usia 2-3 tahun terjadi perubahan ke arah antara Otonomi/Mandiri >< Malu/Ragu-ragu, fase ini disebutnya masa pemberontakan anak atau (sering dianggap) masa 'nakal'-nya, padahal ini adalah tahap dimana anak sedang mengembangkan kemampuan motorik (fisik) dan mental (kognitif), orangtua harus mendorong dan memberikan tempat untuk mengembangkan motorik dan mentalnya. Anak sangat terpengaruh oleh perilaku orang-orang penting di sekitarnya (orang tua, guru, saudara). menjelang usia 4-5 tahun, anak akan sangat cerewet banyak bertanya dalam segala hal karena inisiatif dan idenya berkembang sampai pada hal-hal yang berbau fantasi.

Berkomunikasi dengan anak usia 2-3 tahun?


Tiap anak punya kecepatan perkembangan bahasa yang berbeda-beda, namun sebagian besar anak berusia 2 tahun dapat mengikuti arahan dan intruksi sederhana. Umumnya anak sudah memiliki 50-200 kosakata. Anak mulai menirukan apa yang ia dengar dan mulai mengkombinasikan kata-kata walaupun masih belum jelas. Pada usia 2,5 tahun, anak akan menguasai minimal 200 kosa kata. Ia juga akan dapat mengikuti intruksi tambahan seperti ”ambil buku di meja”. Anak akan lebih mengerti dan dapat berbicara dengan lebih jelas. Anak mulai menggunakan bahasa pada percakapan singkat, biasanya dalam bentuk pertanyaan-jawaban.
Anak berusia 3 tahun akan mengembangkan antara 200-300 kata dan ia akan mulai mengabungkan kata-kata menjadi kalimat pendek, menggunakan bahasa secara baik, mencoba-coba merangkai kalimat, mengungkapkan masalah yang dihadapinya atau memahami konsep-konsep.

Sejak anak berusia 2 tahun, perbanyaklah melibatkan anak dalam permainan dan percakapan interaktif, ajak melihat-lihat buku, bernyanyi, bermain permainan kata-kata. insyaAllah waktu yang kita luangkan itu akan meningkatkan perbendaharaan katanya sekaligus memberinya kesempatan untuk melatih keterampilan mendengarkan. Ini contoh programnya:


  • Minta anak bercerita mengenai kegiatan menarik yang sudah dilakukannya hari ini, atau kegiatan yang ingin dilakukan besok. Misalnya: ”tadi main lego sama kakak ya? Bikin apa de?”, “besok mau main lego lagi? membuat apa ya?”
  • Bacakan buku favoritnya berulang-ulang, pancing anak melakukan pretend reading (pura-pura membaca buku), biarkan anak yang ’membacakan’ buku untuk Anda lalu berikan apresiasi positif
Kuatir dengan anak cadel? Cadel adalah proses yang biasanya akan hilang seiring pertambahan usianya asalkan lingkungan tidak ikut-ikutan cadel. Ada sebagian anak yang ditemukan sangat terlambat dalam perkembangan bahasanya, temuilah pakar tumbuh kembang anak, terapi wicara, psikolog anak, atau dokter anak untuk mendapatkan konsultasi, assesment dan penanganan terapi  jika diperlukan.

0 komentar:

Poskan Komentar